NATUNA

Manusia bijak akan mampu membaca tanda-tanda alam untuk membantu kehidupannya. Demikian juga nelayan di pulau Natuna dan sekitarnya..

Koleksi eBooks

Area download eBooks pilihan yang tersedia dalam bahasa Indonesia..

Sejarah Syiah dalam Perang Shiffin

Pemahaman SYIAH sendiri mulai berhembus pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Terjadi fitnah besar-besaran di dalam tubuh umat Islam..

Peta Pembangkit Listrik

Kaum Muslim bersekutu dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air dan api. Kata api pengertiannya mencakup sumber energi, termasuk listrik..

Keadilan Islam

Pada dasarnya, hukum punya tujuan yang sangat mulia, yaitu untuk menjaga manusia dari berbagai kedzaliman, dan memastikan setiap manusia mendapatkan balasan..

G.O.D (Gold, Oil, and Diamonds)

Di era pengetahuan penting bagi kita mengetahui dasar-dasar yang membentuk perekonomian kita (dan dunia). Sejak berabad-abad lamanya emas telah digunakan oleh berbagai bangsa..

Riset Kanker dan Kontroversinya

Warsito mempelajari fungsi gelombang listrik untuk diagnosis dan terapi. Dia tahu, sebuah sel punya gelombang listrik tertentu. Itu bisa berinteraksi dengan gelombang listrik yang dipaparkan padanya..

Tampilkan postingan dengan label KISAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KISAH. Tampilkan semua postingan

Ketapel Daud #4th


“Matahari bumi lebih muda dan terang. Sel-sel tubuhmu menyerap total radiasinya, memperkuat otot-ototmu, kulitmu, dan inderamu..

Kau akan memberikan orang-orang di bumi tekad untuk maju. Mereka akan berlomba di belakangmu, mereka akan tersandung, mereka akan jatuh. Namun jika saatnya tiba, mereka akan bergabung denganmu ketika matahari terbit.”  ~ Man of Steel ~

---

Daud terbangun dari mimpinya, sinar matahari pagi mulai menerpa wajahnya. Rasa sakit di sekujur tubuhnya telah menghilang. Sinar matahari pagi dengan cara yang kurang dimengertinya telah memulihkan luka-luka yang dideritanya. Di sampinya Sang Singa telah terbujur kaku akibat pertempuran semalam.

Tak terasa matahari telah naik melewati waktu dhuha (sekitar jam 10 pagi). Tapi jangan ditanya kapan sholat subuh. Belum ada perintah Isra’ Mi’raj (sholat 5 waktu) pada waktu itu. Bahkan Nabi Muhammad pun belum diutus. 

Pada hakikatnya semua nabi dan rasul diutus ke dunia dengan membawa agama Tauhid. Yang membedakannya adalah syari’at yang diembannya. Jadi kita anggap saja sholat subuh belum ada.. haha!

Celakanya, terik matahari mengingatkannya bahwa seharusnya peperangan telah dimulai sejak pagi-pagi buta. Alangkah terkejutnya ia mendapati hal itu. Ia segera bergegas, berlari sekuat tenaga menuju medan perang.

--


Sementara itu telah terjadi pertempuran besar-besaran di medan perang. Pasukan Goliath menghujani pasukan Thalut dengan serangan membabi buta. Pertempuran berdarah telah menelan banyak korban yang berjatuhan dari kubu Thalut. Sebuah pertempuran yang sangat tidak seimbang.

Sementara itu dari atas bukit Daud mengamati dari kejauhan. Oh tidak, pasukan Thalut berada dalam keadaan terjepit. Ia bergegas turun tangan menuju medan perang. Ia datang bak pahlawan kesiangan.
Alangkah terkejutnya ia mendapati bahwa tidak ada satupun prajurit yang menganggapnya sebagai sebuah ancaman yang patut diperhitungkan.

Dengan cara yang sempurna cerita ini tiba-tiba memaparkan kisah kepahlawanan yang memunculkan sosok superhero baru, The Invisible Man.. alias manusia yang tak terlihat.. atau bisa juga manusia yang tak dianggap .. (tergantung persepsi masing-masing).

Terkadang Allah bekerja dg cara yang tak dimengerti manusia. Memberikan kita pelajaran berharga bahwa ternyata kendali bukan berada di tangan manusia termasuk atas pikirannya sendiri. 

Dalam keadaan serba kekurangan Daud menyelinap ke tengah-tengah pertempuran tanpa hambatan. Raksasa Goliath yang merasa berada di puncak kemenangan, tertawa kegirangan. Raksasa Goliath dibutakan oleh kesombongannya sendiri. Ia pikir tidak ada lagi yg bisa mengalahkannya.

Dengan langkah terseok-seok Daud mendekati Goliath. Dalam tempo sepersekian detik, tepat pada saat Goliath lengah, ia lesatkan peluru ketapelnya tanpa keraguan, tepat mengenai sebelah mata Goliath.

“Aaaarrggghhhh..” teriakan Goliath menimbulkan kegemparan di medan peperangan.

Goliath kehilangan keseimbangan, tubuhnya goyah.. tiba-tiba kakinya tersandung bebatuan. Sebuah efek beruntun yang mengejutkan, tubuhnya ambruk, kepalanya membentur bebatuan, darah pun berceceran. Goliath berhasil dikalahkan!

Begitu terkejutnya para pasukan perang. Pasukan Goliath yang kehilangan arah karena tidak adanya komando, akhirnya berhasil dikalahkan, dan berhamburan tanpa kejelasan.

Allah telah menyelamatkan Bani Israel dan (sekali lagi) menjadikan mereka penguasa di muka bumi. Daud tampil sebagai pahlawan, ia pun dinobatkan sebagai Jendral Perang.

Dan yg menarik, Allah telah memberikan mukjizat kepada Nabi Daud untuk dapat melunakkan besi dan membuatnya menjadi baju perang.

“Dan telah kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu. Maka hendaklah kamu bersyukur.” - Al Anbiya.80
 

Daud pun dikenal sebagai Jendral Perang yang handal dan membantu Thalut memenangkan banyak pertempuran. Sepeninggal Thalut ia pun menggantikan kepemimpinan Thalut.

“Wahai Daud! Sesungguhnya engkau kami jadikan khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sungguh orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yg berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” - Saad.26

- END -


Ketapel Daud #3rd

Pedalaman Hutan adalah tempat yg cocok untuk melatih kepiawaiannya menggunakan ketapel. Daud harus mengambil resiko untuk menghadapi ‘binatang buas’ yang siap memangsanya kapan saja. Bismillah, ia tidak boleh lengah.

"Jika ada Allah di hatimu, kau tak akan pernah menderita. Makanya, Iqro’.. bacalah..”  Ia teringat pesan ayahnya kepadanya.

Semakin masuk ke dalam hutan suasana semakin mencekam. Dari kejauhan terdengar suara-suara aneh yang membuat bulu kuduknya merinding. Ia pun harus mengasah instingnya layaknya seorang hunter.


Dari balik pohon terdengar suara aneh, ia lesatkan anak panahnya.. “pprraakk!” Muncullah binatang yang tak diduganya, monyet. Hewan itu muncul secara tak terduga, hendak mencakarnya.

Daud kaget bukan kepalang. Tak disangka monyet hutan bisa menjadi seganas itu. Ia pun lari menghindar. Celakanya, monyet itu tidak sendirian. Kawanannya mulai bermunculan di belakangnya.

“Aaargghh” seekor monyet hinggap di badannya, mulai mencakarnya. Ia pukul monyet itu dengan tongkat yang dibawanya. Monyet itu pun terjungkal di belakangnya. Ia segera berlari sekencang-kencangnya keluar dari hutan.

Dengan nafas terseok-seok ia beristirahat di bawah pohon rindang bersama si Dombi di tepi hutan.

Tak habis pikir. Monyet seimut itu bisa mencakarnya habis-habisan. Bagaimana ia bisa menghadapi para raksasa seperti Goliath? Para raksasa buas jagoan perang, yang instingnya terasah di medan perang.

---


Hari demi hari pun berlalu, ia mulai terbiasa mendengarkan suara-suara aneh yang tak ia ketahui sumbernya dari siapa. Ada burung hantu dan kelelawar yang membuatnya kelabakan. Ada juga rusa, binatang itu cukup jinak namun tetap saja jika diganggu ia bisa juga menyerang. Badak yang tak tak mempan dengan tembakan ketapelnya.

Ada juga ular berbisa yang melenggok-lenggok keluar dari semak-semak membuatnya merinding ngeri. Dan tak satupun dari mereka bisa ia taklukkan. Namun yang lebih menyedihkan dari itu semua ia secara tak sengaja ‘melukai’ kelinci imut putih yang tak berdosa. Ohh, kaasiiihaaan..

Selain luka-luka dan babak belur, mungkin satu-satunya skill yang ia dapatkan adalah jurus ‘langkah kaki seribu’ nya yang semakin hari ke hari semakin gesit & lincah. Hasil dikejar-kejar binatang buas.

Hingga sehari sebelum peperangan ia merasa seperti belum bisa apa-apa. Ia jengkel bukan main. Oke, lagi-lagi ia harus membuat taruhan. Ia bertekad untuk bisa merobohkan satu binatang buas yang ia temui di hutan malam itu juga.

--

Hari mulai gelap. Sayup-sayup terdengar suara-suara mengerikan dari kejauhan. Ia melangkah dengan hati-hati ke dalam hutan. Sunyi. Senyap, hampir tanpa suara. Ia bersembunyi dalam semak belukar mengamati dari kejauhan menunggu suara binatang yang lewat. Ia melihat bayang-bayang hitam seukuran tubuh manusia sekitar 100 meter dari tempat ia berada.

Daud melesatkan ketapelnya. “Pprraaak”, terdengar suara auman binatang tanda kemarahan. Ternyata adalah Singa,  si Raja Hutan.

Ia berlari ketakutan bukan main. Singa di belakangnya mengejar-ngejarnya dengan penuh kemarahan. Jurus ‘langkah kaki seribu’ nya berkali-kali menyelamatkannya dari kejaran sang Singa. Ia harus menerobos semak-semak belukar, berlarian dari satu pohon ke pohon yang lain. Sang Singa meraum-raum, terdengar semakin murka karena berkali-kali menubruk semak-semak dan pepohonan liar di dalam hutan.

Hal yang tak jauh beda terjadi pada Daud, ia termakan oleh jalur sulit yang ia tempuh sendiri. Kulit nya terasa sobek-sobek oleh goresan tanaman berduri, tulang-tulangnya serasa mau remuk bertubrukan dengan pohon-pohon liar di hutan.

Sekali dua kali ia tembakkan ketapelnya kearah singa untuk merobohkannya. Namun lagi lagi hal itu justru membuat sang singa semakin murka.

Tenaganya semakin berkurang. Singa semakin mendekat.

“Aarrrrgggghh” baju belakangnya terkoyak oleh sang singa. Sebelum singa sempat menerkamnya lebih jauh, dengan sigap ia pukul kepala sang singa dg tongkat ketapelnya. “Bruukkk”. Sang singa pun linglung.

Selaaaamaat! Pikirnya dalam hati. Lega rasanya. Ia pun berlari semakin kencang.

Namun tiba-tiba, “Brrrruuuuukk”. Kakinya tersandung akar pepohonan, ia pun jatuh.

Dengan langkah hati-hati.. sang singa mendekati Daud dengan pandangan mata tajam, seolah tersenyum penuh kemenangan.

Daud merasakan rasa sakit luar biasa. Mungkin inilah akhir hayatnya. Ia pun pasrah kepada Allah SWT. Jika Allah di hatimu kau tak akan pernah menderita!!!

“Ayo, singa.. majulaaaaah!!!” teriakannya memecah kesunyian, membuat kegemparan ke seluruh isi hutan.

Sang Singa yang merasa tertantang, mulai berlari menyerang.

50 meter...

30 meter…

10 meter..

Dengan tatapan tajam penuh kepasrahan kepada Sang Maha Kuasa, ia menembakkan ketapelnya tanpa keraguan.

---



Tindakan tanpa keraguan adalah kunci dari pengendalian Haki!~ Silver Rayleigh

---

Pelurunya melesat hebat tajam tanpa keraguan. Dalam gerak lambat (slow motion) pelurunya melaju bagaikan roket yg mengeluarkan tenaga api di setiap incinya, tepat mengenai kepala Sang Singa.

Dan kemudian yang terjadi adalah sang Singa roboh seketika.

Alangkah terkejutnya Daud akan kejadian itu. Dengan langkah goyah rasa sakit di sekujur tubuhnya, ia pun memeriksa sang singa yang ternyata sudah tak bernyawa. Alangkah terkejutnya ia melihat kondisi sang Singa.  

Satu hal yang tak pernah terbersit dalam pikirannya sebelumnya dibukakan tepat di hadapannya. Peluru ketapelnya tepat mengenai titik lemah binatang buas tersebut. Mata Sang Singa. 

Daud pun terjatuh pingsan penuh syukur kepada Sang Maha Kuasa.


..to be continued. Insya Allah!


 

Ketapel Daud #2nd

Si Dombi, domba kecil yang selalu setia menemani Daud muda selalu setia dimanapun ia berada. Ia adalah teman satu-satunya semenjak kakak-kakaknya mengajukan diri sebagai pasukan pembasmi Goliath. Sebenarnya dia sendiri juga bermaksud mendaftar ke dalam pasukan tersebut, namun apa daya tangan tak sampai.

Hoi, bocah. Ngapain kamu ikut-ikutan? Jangan main-main di sini!” bentak salah seorang prajurit.

Tapi.. Saya ingin ikut berperang,” jawab Daud kaget.

Halah, ini hanya untuk 18+ tahun ke atas. Pulang sana ke ibu bapakmu !!” kata prajurit itu.

Daud muda pun jadi sedih dibuatnya. Ia tidak peduli. Tanpa registrasi pun ia tetap nekat pergi ke medan perang.

Namun, tanpa dukungan ‘pasukan pembasmi Goliath’, ia tidak mendapatkan alat-alat perang yang dibutuhkan. Jadilah ia termenung seorang diri bersama si Dombi yg menemani.

Akibat ulah Raksasa Goliath, masa-masa kecil Daud muda dan teman-teman yang seusia dengannya seolah-olah hilang ditelan zaman. Lahan-lahan tempat ia menghabiskan waktu bersama mulai menyempit akibat pembangunan, tanaman-tanaman mulai mati, aliran-aliaran air sungai tersendat, debit air sungai mulai berkurang, dunia dilanda kekeringan.

Dulu di sela-sela menggembala domba, ia suka bereksperimen. Tongkat yang dibawanya untuk menggiring domba ia ubah menjadi sebuah ketapel untuk mengusir hewan-hewan buas yang keluar dari dalam hutan.

Dan tiba-tiba ia pun mendapatkan sebuah ide.. sebuah “Ketapel”.. itulah jawabannya!!!


.. to be continued. Insya Allah! 


 

Ketapel Daud #1st

Bani Israel dikenal sebagai keturunan dari Israel, atau yang kita kenal sebagai Nabi Yakub a.s. Ribuan Nabi telah diutus kepada Bani Israel namun seringkali mereka ingkar, bahkan membunuh para nabi & Rasul yang diutus kesana.

Zaman silih berganti, seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, seringkali membuat manusia lalai, bahkan ‘melampaui batas’ yang ditetapkan oleh Tuhannya. Sosok manusia, seperti Namrud, Fir’aun, dll boleh jadi telah tiada, namun ketika ide, konsep, dan keyakinan mereka telah mengakar erat secara tersistematis dalam nilai-nilai sosial kemasyarakatan, nah.. semua jadi semakin rumit bagi masing-masing diantara kita.

Sehingga kita tidak bisa menyalahkan sosok perorangan, namun lebih parah lagi sosok-sosok mereka telah bertransformasi menjadi ‘Raksasa’ dengan segala macam sumber dayanya. Dan ini bisa terjadi kepada masing-masing di antara kita, ketika keserakahan terhadap kekayaan menguasai manusia. Nah, ini adalah kisah tentang Raksasa Goliath (Jalut).

Pada zaman itu diutus seorang Nabi kepada Bani Israel yaitu Nabi Samuel. Bani Israel dalam keadaan tertindas oleh kekuasaan Goliath. Maka Bani Israel meminta kepada Nabi Samuel seorang Raja yang bisa memimpin mereka untuk mengalahkan Goliath. Dipilihlah Thalut, yang bukan berasal dari golongan terpandang di masyarakatnya, sehingga banyak terjadi perseteruan-perseteruan di kalangan mereka sendiri.

Dipimpin oleh Thalut, Bani Israel mulai menunjukkan keberaniannya. Genderang perang pun ditabuh. Dilakukan rekrutmen besar-besaran untuk mencari prajurit perang melawan Raksasa Goliath.

Nah, pada saat itu tokoh utama yang kita tunggu-tunggu, Daud muda, seorang bocah kira-kira berumur 16 tahun adalah seorang penggembala domba. Di sela-sela penggembalaannya ia sering termenung seorang diri. Ia prihatin dengan tingkah Goliath yang semakin semena-mena.

Para raksasa seperti Goliath menjadi semakin berkuasa. Mereka menguasai hampir di setiap sumber daya alam yang ada. Sehingga dengan kekuasaannya bisa membeli apa saja yang mereka inginkan.
Para masyarakat kalangan bawah semakin tidak berdaya. Kehidupan semakin sulit, sehingga mereka rela menjual diri hanya untuk sekedar bisa bertahan hidup agar diperas lagi keesokan harinya.

Di tengah-tengah himpitan hidup yang semakin berat, masih ada juga yang memberikan angin kesejukan. Daud muda dikenal sebagai seorang penggembala yang pandai bersyair, sebagai wujud syukurnya kepada Allah SWT. 

Syair-syairnya bagaikan oase di tengah padang pasir, memberikan kesegaran bagi siapapun yg mendengarnya. Mereka pun berbunga-bunga dibuatnya.. haha! 


..to be continued. Insya Allah!